Roma

Rabu, 13 Juli 2011

~Gadis Kecil Cina dan Sakramen Mahakudus~

Cece Tee
 
Beberapa bulan sebelum wafatnya, Uskup Fulton Sheen diwawancarai dalam sebuah siaran TV nasional. Salah satu pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah:
“Uskup Sheen, anda telah mengilhami berjuta-juta orang di seluruh dunia. Siapakah yang mengilhami anda? ...Apakah Bapa Suci?”
Uskup Sheen menjawab bahwa bukanlah seorang Paus, Kardinal, Uskup, imam ataupun biarawati, melainkan seorang gadis kecil Cina berusia sebelas tahun. Bapa Uskup kemudian menceritakan bahwa ketika Komunis mengambil alih kekuasaan di Cina, mereka memenjarakan seorang imam di pastorannya sendiri dekat Gereja.
Setelah mereka mengurungnya di wisma pastoran, dari jendela kamarnya imam itu dengan gementar melihat mereka memasuki gedung Gereja, lalu menuju ke  altar di mana tabernakel ditempatkan. Dengan kebencian yang sangat, mereka mengeluarkan sibori lalu mencampakkannya ke lantai sehingga Hosti Kudus jatuh berciciran. Imam itu tahu dengan pasti jumlah Hosti Kudus dalam sibori itu; tiga puluh dua.
Ketika Komunis itu pergi, mereka tidak memperhatikan atau mungkin tidak mengacuhkan kehadiran seorang gadis kecil yang sedang berdoa di bangku belakang gereja. Gadis kecil itu melihat semua yang telah terjadi.
Malam itu si gadis kecil datang kembali, menyelinap melewati pengawal di pastoran itu, lalu masuk ke dalam gereja. Di sana dia bersembah sujud selama satu jam, suatu tindakan kasih yang menghapuskan tindak kebencian. Selesai bersembah sujud, dia menuju ke altar, berlutut, membungkuk dan dengan lidahnya menerima Yesus dalam Komuni Kudus.
Gadis kecil itu terus kembali setiap malam untuk bersembah sujud selama satu jam dan menerima Yesus dalam Komuni Kudus dengan lidahnya. Pada malam yang ke-32, setelah menyantap Hosti Kudus yang terakhir, secara tidak sengaja dia telah menimbulkan kebisingan yang membuatkan pengawal terjaga dari tidurnya. Lalu mengejar dan menangkap gadis kecil itu. Terus menderanya dengan gagang senapang hingga gadis kecil itu meninggal.
Kematiran yang gagah berani itu disaksikan dengan hati yang pilu oleh imam yang dikurung itu lewat jendela kamarnya.
Ketika Uskup Sheen mendengar kisah ini, dia begitu tersentuh hingga berjanji pada Tuhan bahwa dia akan memberikan satu jam sembah sujud di hadapan Yesus dalam Sakramen Mahakudus setiap hari sepanjang hidupnya.
Jika gadis kecil ini begitu berani mempertaruhkan nyawanya setiap hari demi untuk menyatakan cinta kasihnya kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus dengan satu jam sembah sujud dan Komuni Kudus, maka setidak-tidaknya, Uskup Sheen berpikir dia harus melakukan hal yang sama.
Bagaimana dengan kita?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar